Assalamu’alaikum Wr Wb
Mungkin ini akan mengagetkan kita bagaimana ada 2 metode dalam mengungkapkan kebenaran dalam agama kita Islam ini. Hal ini sangatlah menarik buat kita kaji agar kita jauh lebih tahu tentang letaknya dimana perbedaan dan kesamaannya serta teknik yang dilakukannya.
Para ilmuawan mempelajari ilmu melalui metode belajar dan mengajukan beberapa argumentasi yang nantinya dapat mempengaruhi hati.
Para Sufi mendapatkan ilmu melalui metode mukasyafah (penyingkapan) dan musyahadah (penyaksian) sehingga keduanya akan bisa mempengaruhi hati.
Metode kaum sufi sendiri ada 2 yaitu
Pertama :
Melalui bisikan dalam hati, karena Rasulullah saw sendiri mendapatkan ilmu dari Allah melalui bisikan di hati oleh Jibril.
Kedua
Melalui ilham yang baik. Ini di dapat melalui tersingkapnya berbagai hal dan diperlihatkan kepadanya malaikat yang mengurus segala sesuatu. Apakah hal ini bisa terjadi ?. Tentu saja bisa karena pada hakekatnya hati itu ibarat cermin yang jernih. Segala sesuatu itu tertulis di Lauh al-Mahfudz. Dalam keadaan hati bagai cermin jernih itu sejajar dengan Lauh al-Mahfudz maka hakekat segala ilmu akan tersingkap. Tersingkapnya bisa dalam keadaan tidur dan juga bia dalam keadaan terjaga bahkan terkadang melalui tiupan angin yang lembut.
Hijab itu akan terbuka ketika datangnya kematian pada diri kita, hal ini diterangkan Rasulullah saw bahwa manusia itu sebenarnya dalam keadaan tertidur dan baru akan terbangun ketika ia mati.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Jadi metode kaum sufi tersebut sama saja dengan metode menjemput kematian, maka itu mereka tidak disibukkan dengan mencari ilmu tetapi mereka lebih sibuk dengan mensucikan hati meraka dan memutuskan hubungan dengan makhluk lain dan menyerahkan diri secara total kepada Allah. Ketika itu semua urusan diserahkan pada Allah swt. Inilah metode yang dipakai oleh para nabi dan wali dimana mereka mendapatkan ilmu bukan melalui belajar tetapi mendapatkannya langsung dari sumbernya. Karena ini perbuatan nabi maka tentulah kita boleh melakukannya, namun janganlah melupakan metode belajar selama kita belum mendapatkannya secara langsung dari pemilik ilmu, yaitu Allah swt. Bila kita terus melakukannya berarti kita akan binasa.
Tahukah saudaraku, bahwa hati itu mempunyai 2 ilmu, pintu pertama menuju alam duniawi dan satu pintu lagi menuju alam gaib (hal ini terbukti kalau kita sedang tidur dimana kita dapat melihat beberapa kegaiban). Pintu alam gaib itu akan tertutup ketika kita terjaga dari tidur tetapi pintu ini akan tetap terbuka untuk kalangan para nabi dan para wali serta orang yang mensucikan hatinya karena Allah swt. Saudaraku perbanyaklah dzikrullah dengan cara menyendiri, melalui dzikrullah itu dosa kita akan terhapus dan pada hari kiamat nanti kita akan menuju syurga dengan langkah yang ringan. Bahkan Allah berjanji akan menerima wajah kita dengan wajah Allah sendiri bila kita ingin mengetahui apa yang akan Allah berikan kepada kita. Lalu Allah pertama kali akan memberi kita cahaya-Nya kepada hati kita. Alangkah indahnya hal seeprti itu bila terjadi pada diri kita. Tentu kita menginginkannya. Jadi untuk masuk ke alam tersebut maka letaknya ada di dalam hati yang arahnya akan menuju alam gaib. Bila hal itu terjadi itulah yang disebut dengan alam Ketuhanan.
Perbedaan antara kaum ilmuawan dengan kaum sufi dalam menuntut ilmu terletak dimana kaum ilmuawan membuat ilmu tersebut sedangkan kaum sufi membuat ilmu tersebut menjadi lebih bermakna. Jadi apa yang tersingkap oleh kaum ilmuawan akan tersingkap pula oleh kaum sufi. Perlu kalian ketahui saudaraku bahwa besarnya iman tergantung dari tingkat kesulitan yang di tempuhnya. Semakin sulit jalan yang diambilnya untuk menuju derajat iman maka semakin besar iman yang akan di dapatnya, tetapi bila ia menjalankan ibadah dengan se adanya tentu iman yang akan didapatnya tidak sebanding dengan orang yang telah menjalankan perjuangan berat untuk mendapatkannya. Setiap kita mempunyai tingkat cahaya yang diberikan Allah berbeda satu sama lain, kita tentu ingin mendapatkan cahaya yang sebesar gunung namun sebagian lagi teman teman kita mendapatkan cahaya yang kecil bahkan ada diantara kita yang mendapatkan cahaya sebesar ibu jari kaki. Kita berusaha cahaya tersebut tetap berkilau karena cahaya tersebut terkadang berkilau terkadang meredup / berhenti. Inilah cahaya yang harus kita jaga karena cahaya inilah yang nantinya akan memberikan kelancaran atau tidaknya kita di ash-shirath (jembatan), kita tentu ingin melewati ash-shirath tersebut dengan sekejap saja dan tidak menginginkan melewati jembatan itu seperti geraknya awan, juga kita bisa melewati jembatan tersebut bagaikan melesatnya bintang bintang dan bisa juga seperti kuda yang berjalan dengan terseok seok. Janganlah kita punya cahaya yang sebesar ibu jari karena bila kita mempunyai cahaya sebesar ini maka jalan kita akan merangkak di ash-shirath, kita akan menyeret tangan kita sementara tangan yang lain akan bergantung pada yang lain sementara badan kita kiri dan kanan terkena jilatan api neraka, hal tersebut akan terus berlangsung sampai kita lolos melewati ash-shirath. Sungguh mengerikan hal tersebut terjadi.
Gunakanlah metode kaum sufi ini, karena metode ini adalah metode yang cepat untuk menggapai cahaya Allah. Karena melalui metode ini akan dapat merasakan tiupan kenikmatan dari Allah kedalam hati kita dan ini terlah terjadi pada kaum sufi. Kaum sufi inilah yang digambarkan sebagai kaum mukmin dan bila kita telah masuk dalam kategori kaum mukmin seperti ini maka hati hatilah bahwa firasat kaum mukmin seperti ini sesungguhnya cahaya Allah. Bahkan Rasulullah saw berkata diantara umatnya akan ada orang yang di beri ilham (muhadatsun) dab nukallamun (orang yang diajak bicara oleh malaikat tetapi bukan nabi) dan salah satunya yaitu Umar.
Namun ketika kita mencoba memakai metode kaum sufi ini maka kita juga harus waspada terhadap godaan syetan. Ingatlah saudarak, di hati kita ada satu pintu tempat keluar masuknya syetan dari dank e alam gaib, setan juga dapat memberikan bisikan kepada hati kita sebagaimana malaikat yang juga bisa membisikkan hati kita. Untuk itu cara yang terbaik untuk mencegah masuknya setan dari pintu tersebut yakni kita harus terus berusaha mengekang dan mngendalikansifat sifat buruk, bila kita bisa mnegnedalikan sifat buruk tersebut maka berarti semakin sempitlah jalan mereka untuk masuk ke hati kita atau alhamdulillah bila itu bisa tertutup semua. Andai saja dibiarkan saja sifat buruk tersebut terus berlangsung maka jalan setan untuk masuk ke hati kita semakin terbuka lebar. Sumbatlah jalan setan itu niscaya hati kita akan tempat sumber hikmah dan tempat turunnya para malaikat dan akan tempat menjadi sarang setan bila dibiarkan saja.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Itulah gambaran tingkat keimanan kita yang berbeda satu dengan yang lain. Kita bangga dengan keimanan kita saat ini, tapi bisa bayangkan kalau Rasulullah saw berkata bahwa bila ke imanan seluruh manusia di timbang dan dibandingkan dengan ke imanan Abu Bakar maka keimanan Abu Bakar akan lebih berat. Hal ini sama saja dengan ungkapan bahwa semua cahaya yang berasal dari pelita di kumpulkan maka cahaya matahari akan lebih terang. Ini menunjukkan bahwa cahaya orang orang awam seperti kita laksana lilin sedangkan cahaya auliya laksana bintang dan cahaya nabi laksana matahari.
Saudaraku jangan tunda lagi, singsingkan lengan, buka hati kita perbanyaklah dzikrullah dan ibadah ibadah lain baik magdoh maupun sunnah untuk mengejar ke ridhoan Allah. Bila Allah telah ridho dengan kita maka cahaya Allah akan terang benderang di diri kita lalu kita pertahankan agar tetap terang ketika melintas di ash-shirath nantinya. Insya Allah. Amiiin.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar