Assalamu’alaikum Wr Wb
Mungkin hampir bosan kita selalu mendengar tentang hati. Hampir disetiap acara ke agamaan yang selalu dibicarakan bagaimana menjaga hati, bagaimana memelihara hati dan lain lain. Sehingga hampir semua mengetahui bahwa begitu pentingnya hati tersebut bagi kita, khususnya umat muslim.
Memang didalam tubuh kita ada segumpal daging yang bila ia baik maka baiklah seluruh tubuh dan bila ia jahat maka jahatlah seluruh tubuh. Dia itulah yang kita sebut hati. Namun perlulah dibedakan antara hati, roh, nafsu dan akal. Kesemuanya kelihatan hampir bersamaan tetapi punya arti yang sangat berbeda.
Hati mempunyai 2 arti , dimana arti pertama yaitu daging kecil yang terletak didalam dada sebelah kiri dan didalamnya ada rongga yang berisi darah hitam. Disinilah sumber dan tempatnya roh. Hati jenis ini terdapat pada binatang dan juga orang mati.
Arti yang kedua dari hati yaitu tempat bisikan halus rabbaniah (ketuhanan), bisikan inilah yang dapat mengenal Allah dan dapat menjangkau apa yang tidak bisa kita khayalkan dan angan angan. Inilah yang dimaksud dari hakikat manusia itu sendiri, karena tidak semua hati itu dipunyai orang yang hidup tetapi yang mempunyai hati adalah mereka yang mempunyai akal. Ketika hubungan antara rabbaniah dengan hati itu akan terjadi hubungan yang sangat halus yang tidak bisa dilakukan dalam bentuk penjelasan penjelasan karena itu akan terjadi dengan dipersaksikan mata hati.
Sedangkan roh sendiri juga mempunyai dua arti, pertama yaitu nyawa yang berbentuk seperti uap yang bersumber dari darah hitam yang ada dihati dimana ia tersebar diseluruh pembuluh nadi kita yang disebut oleh para dokter dengan sebutan nyawa. Namun arti yang kedua yaitu bisikan halus rabbaniah yang bermakna hakiki dari hati. Roh dan hati ini bersama sama menyampaikan bisikan halus. Hal ini tidak banyak diketahui manusia bahkan Allah pun mengatakan roh itu adalah urusan-Nya, kita hanya diberi pengetahuan sedikit tentang itu.
Makna Nafsu (an-nafs) juga mempunyai 2 arti, arti yang pertama yaitu mencakup amarah, syahwat dan seluruh sifat tercela. Oleh Rasulullah saw maka nafsu seperti ini harus ditundukkan karena ia merupakan musuh yang utama bagi kita, dan ia terdapat di dalam rongga dada.
Sedangkan makna yang kedua yaitu bisikan halus rabbaniah. An Nafs inilah yang membedakan manusia dengan binatang, bila nafs ini di isi dengan dzikirullah maka akan sampai pada an-nafs muthma’innah (jiwa yang tenang).
Nafsu itu sendiri mempunyai tiga tingkatan yaitu an-nafs ammarah bia as-su (ini nafsu yang selalu menyuruh kita berbuat kejahatan), an-nafs lawwamah (ini adalah nafsu yang mencela segala perbuatan maksiat, tidak condong kepadanya dan tidak pula senang melakukannya), an-nafs muthma’innah (nafsu yang condong pada selalu berbuat kebaikan).
Pengertian akal yang pertama yaitu mengetahui hakekat sesuatu sedang arti yang kedua yaitu orang yang berilmu dimana ilmunya menjadi sifat baginya.
Dari perbedaan diatas sudah jelas bahwa hati bagaikan singgasana dan dada sebagai kursinya yang berarti hati itu bukan darah hitam yang kita sebutkan pada makna diatas, tetapi hati itu adalah bisikan halus rabbaniah.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Tahukah anda bahwa hati itu mempunyai 2 tentara, yang pertama tentara yang dapat disaksikan oleh panca indera (tangan, mata, kaki dan seluruh anggota tubuh lainnya), yang kedua yaitu tentara yang hanya dapat disaksikan oleh pandangan mata hati (al-bashirah), inilah yang dimaksud dengan Rasulullah saw bahwa didalam dada ad segumpal daging bila dia baik maka baiklah seluruh tubuh ….dstnya.
Jadi hati kita merupakan pimpinan tertinggi dan seluruh anggota lain harus menuruti perintahnya. Bila ternyata perintah hati tidak bisa mengendalikannya maka berarti kekuatan syahwatnya lebih besar dan ini bisa mencelakakan dirinya karena semestinya hati yang menjadi pemimpin justru syahwat menjadi pemimpin, ibarat raja di perintah oleh anjing. Dimana berarti raja tersebut sujud pada anjing tersebut. Sangat mengerikan bila hal ini terjadi. Hal inilah yang terjadi pada diri kita bila nafsu syahwat kita mengendalikan hati kita, apakah ini bisa kita ketahui. Tentulah bisa, yakni dimana bila kita banyak melakukan hal hal yang dilarang agama. Sifat negative yang ada pada syahwat itu adalah tentaranya setan yang selalu menyerang hati kita sehingga lama kelamaan hati kita tertawan oleh tentara setan sehingga bisikan halus rabbaniah tidak bisa masuk kedalam hati dan akhirnya inilah yang disebut oleh Allah bahwa orang yang pendengaran dan penglihatanya telah di kunci oleh Allah.
Hati kita itu ibarat cermin, selagi cermin itu bersih dan mengkilap maka ia dapat untuk melihat sesuatu, tetapi bila ia telah tertutupi oleh kotoran atau debu maka akan sulit untuk melihat hal hal yang baik. Bila ternyata hati kita kotor dan tidak punya alat untuk membersihkannya maka lama kelamaan hati itu akan rusak. Rasulullah saw berkata ada 4 jenis hati, yaitu 1. Hati yang memancarkan bagaikan lampu, itulah hati orang mukmin. 2. Hati yang hitam dan terbalik, itulah hati orang kafir. 3. Hati yang tertutupi dan terikat pada tutupnya, itulah hati orang munafik. 4. Hati yang berlapis, karena didalamnya terdapat iman dan sifat munafik. Oleh karena itu Allah swt bersabda bahwa hati orang bertakwa bila dalam keadaan was was yang datang dari setan maka mereka cepat mengingat Allah dan ketika itu juga mereka bisa melihat kesalahan kesalahannya. Dari sini dapat terlihat bahwa kejernihan hati akan terlihat bila kita berdzikir sedangkan dzikir itu sendiri dapat dilakukan oleh orang yang bertakwa. Dzikir juga merupakan pintu masuk untuk membuka tabir (kasyaf), bila mencapai kasyaf ini maka berarti kunci kemenangan besar ada ditangan kita.
Saudaraku yang dicintai Allah,
Demikianlh sedikit sekelumit tentang hati. Secara keseluruhan dapat diketahui bahwa hati itu dapat dibersihkan kalau kita selalu dzikirulllah, dengan dzikrullah ini maka akan terbuka tabir antara kita dengan Allah, bila tabir ini terbuka maka kenikmatan yang tiada tara akan tersingkap dan ini merupakan kemenangan besar bagi kita. Marilah perbanyak dzikrullah untuk menghilangkan noda dihati dan untuk membuka kasyaf.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar